Strategi Merubah Perilaku Kebiasaan STOK ASI Menjadi Memberi ASI Secara Langsung ?>

Strategi Merubah Perilaku Kebiasaan STOK ASI Menjadi Memberi ASI Secara Langsung

Beberapa waktu yang lalu seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana cara merubah persepsi ibu menyusui yang suka memperbanyak stok ASI dengan “pumping” dibanding memberikan ASI secara langsung….padahal, waktu untuk memberikan ASI secara langsung tersedia cukup banyak

Oleh kawan tersebut sang busui (Ibu menyusui) sudah diberi penjelasan… namun karena yang menyampaikan informasi bahwa “pumping” untuk stok ASI lebih baik dibanding menyusui langsung diberikan orang yang dianggap professional…maka masukan sang kawan tidak mempan…

Masih menurut kawan saya, tindakan “power pumping” yang dilakukan busui tadi sebenarnya telah membuat busui tersebut stress…adakah cara merubah kebiasaan “pumping” busui tadi…

Ada berbagai cara untuk merubah perilaku busui tadi, antara lain SEFT, Hipnoterapi dan Neuro-Linguistic Programming (NLP), pada kesempatan ini akan disampaikan cara dengan menggunakan salah satu teknik NLP.

Salah satu teknik NLP yang sering digunakan untuk menciptakan perubahan perilaku, dari perilaku yang tidak diinginkan menuju perilaku yang diinginkan adalah swish pattern. Teknik ini efektif mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang ingin dihilangkan dan bersifat berulang, seperti: menggigit kuku, gugup, demam panggung dan kebiasaan lainnya.

Elemen kunci dalam Swish Pattern adalah “switching” atau menggantikan dua buah state, yaitu melepaskan state yang tidak diinginkan dan menggantikannya dengan state yang diinginkan sehingga tercipta suatu keadaan “going away” dari masalah yang ada dan “moving toward” keadaan yang diinginkan dalam bentuk lahirnya perilaku baru menggantikan perilaku lama.

Cara Bekerja Teknik Swish Pattern

Sebuah perilaku muncul karena adanya sebuah trigger atau pemicu dalam pikiran yang mengaktifasi suatu perilaku. Pemicu inilah yang digantikan dengan perilaku baru atau gambar diri (self image) yang lebih bermanfaat atau disebut dengan desired state (keadaan yang diinginkan). Dalam hal ini, Swish Pattern bekerja dengan cara membentuk sebuah pengkodean baru atas gambar, suara, atau perasaan dalam pikiran bawah sadar dengan cara memodifikasi isi dari submodalitas dimana kualitas submodalitas dari perilaku baru dan atau gambar diri minimal dibuat sama dengan kualitas submodalitas dari pemicu.

Sehingga apabila awalnya pada saat pemicu lama muncul, misalnya, TERBAYANG figure yang memberi informasi bahwa “pumping” untuk menyimpan STOK ASI lebih baik (trigger visual), maka langsung muncul keinginan untuk melakukan”pumping”, yaitu: mengambil “pumping” maka setelah dilakukan Swish Pattern diharapkan perilaku tersebut tidak muncul lagi dan digantikan dengan perilaku atau gambar diri yang diinginkan, yaitu: gambar diri bahwa menyusui lebih baik dan lebih sehat dengan kualitas submodalitas (misal: ukuran dan tingkat kecerahan gambar) yang minimal atau lebih kuat dari gambar pemicu.

Sangat dipahami bahwa dalam keadaan normal perubahan ini sulit dilakukan karena kebiasaan “pumping”  sudah menjadi program pikiran bawah sadar yang harus diakses dan di-reprogram secara bawah sadar juga.

Pemilihan “Cue Selection / Trigger

Sebelum melakukan teknik Swish Pattern, sangat penting  untuk mengidentifikasi sebuah cue selection atau trigger (pemicu) yang menyebabkan munculnya sebuah perilaku yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, terBAYANG figure yang memberi informasi mengenai “pumping” untuk pemicu visual, perasaan payudara kencang saat tidak dilakukan “pumping” untuk pemicu kinesthetic, dan suara figure yang memberi informasi “pumping” untuk pemicu auditory.

Dengan mengetahui pemicunya (berupa gambar, suara, maupun perasaan) maka kita dapat mendesain teknik Swish Pattern yang tepat untuk digunakan. Hal ini disebabkan karena lead system (sistem pikiran yang mendahului perilaku tertentu) setiap orang berbeda. Apabila pemicunya adalah gambar (visual) maka Visual Swish Pattern adalah cara yang paling tepat untuk konteks ini.

Mendesain Swish Pattern – Gambaran Menyeluruh

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan perilaku apa yang ingin diubah. Setelah itu, mencari tahu modalitas dan sub modalitas mana yang penting dan memiliki peran besar dalam sebuah trigger. Dalam Swish Pattern standard (Visual Swish Pattern) modalitas itu adalah dalam bentuk gambar (visual) dan sub modalitasnya adalah misalnya ukuran dan tingkat terang/redupnya gambar tersebut. Kemudian tentukan perilaku baru atau gambar diri yang diinginkan yang akan menggantikan perilaku lama. Dan, hal yang terakhir adalah melakukan “switching” atau penggantian state diantara keduanya dengan teknik Swish Pattern.

Berikut ini adalah langkah demi langkahnya untuk Visual Swish Pattern pada kasus merubah kebiasaan “pumping” untuk STOK ASI diganti menyusui secara langsung.

Langkah 1 Tentukan perilaku yang ingin diubah, yaitu KEBIASAAN “PUMPING” untuk STOK ASI..

Langkah 2 Buat gambar pemicu secara asosiasi (melihat dari mata sendiri) yang menyebabkan munculnya perilaku tersebut. Misal: Gambaran figure yang memberi informasi bahwa “pumping” untuk STOK ASI adalah hal baik. Cari submodalitas dari gambar tersebut yang paling mempengaruhi kekuatan dari gambar pemicu, misalnya: ukuran dan tingkat kecerahan gambar. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #1”.

Langkah 3 Break state. Misal, memikirkan hal yang lain atau tarik nafas dalam tiga kali atau ke luar jendela. Tujuannya, agar proses #2 di atas tidak terbawa pada proses selanjutnya.

Langkah 4 Buat gambar yang lain, kali ini disosiasi (melihat dari kejauhan), melihat diri sendiri dengan perilaku baru yang diinginkan. Misal: Gambar diri sendiri penuh semangat memberikan ASI secara langsung pada anak. Untuk mempermudah penjelasan, kita sebut gambar ini sebagai “Gambar #2”.

Langkah 5 Cek ekologi dengan menanyakan: “Saat melihat gambar ini (Gambar #2), apakah ada penolakan untuk menjadi pribadi yang baru tersebut?” Lakukan pengecekan ekologis.

Langkah 6 Sekarang, buat gambar pemicu (Gambar #1) dalam keadaan besar, terang, dan posisi asosiasi. Kemudian letakkan gambar yang diinginkan (Gambar #2) dalam bentuk kecil (seperti insert foto kecil) di pojok kiri bawah dari gambar yang tidak diinginkan (Gambar #1). Lihat gambar di bawah ini.

Langkah 7 Selanjutnya, lakukan proses “swish” dengan cara Gambar #1 memudar dan mengecil sedangkan Gambar #2 mendekat, membesar, lebih terang, dan secara cepat menutupi tempat yang ditempati sebelumnya oleh Gambar #1. Untuk proses ini dapat ditambahkan suara “Wuuzzzzzz……” dan menggerakkan telapak tangan kiri menjauh dari wajah untuk Gambar #1 dan mendekatkan telapak tangan kanan ke wajah untuk Gambar #2 secara bersamaan untuk membantu proses swish lebih efektif. Ulangi proses ini sebanyak lima kali dan lakukan break state sebelum memulai proses swish yang baru. Salah satu tanda berhasilnya teknik ini adalah apabila Gambar #1 terasa sulit untuk di-recall.

Langkah 8 Lakukan pengujian – dalam kasus ini dengan membayangkan figure yang memberi informasi bahwa “pumping” lebih baik dari pada memberikan ASI secara langsung. Apabila sudah tidak ada perasaan atau keinginan melakukan “pumping” lagi… silakan maju ke proses selanjutnya. Apabila masih ada, ulangi langkah pada poin #6 diatas sampai Gambar #1 tidak dapat di-recall.

Langkah 9 Future pace dengan membayangkan suatu saat di masa depan apabila melihat trigger Gambar #1 apa yang akan terjadi. Swish Pattern yang berhasil adalah pada saat dilakukannya future pace ini sudah tidak ada keinginan lagi untuk melakukan perilaku lama, alih-alih melakukan perilaku baru.

Demikian sedikit share mengenai cara merubah perilaku dengan teknik Visual Swish pattern, teknik ini efektif pada klien dengan tipe visual namun pada klien dengan tipe sub modalitas auditory dan kinestetik tentu lebih efektif menggunakan teknik auditory atau kinestetik swish pattern (tergantung tipe sub modalitas klien tersebut).

 

Referensi: Dari berbagai sumber.

 

121 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini